Tampilkan postingan dengan label kua wonosari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kua wonosari. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2020

H. ZUDI RAHMANTO



H. Zudi Rahmanto, dalam Kegiatan Manasik Haji di KUA, 2018
Mutasi Penghulu KUA Kecamatan se Kabupaten Gunungkidul telah dilaksanakan pada hari Selasa 25 Fabruari 2020 di kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul oleh Kapala Kantor, H. Aidi Johansyah, S. Ag., MM. 
H. Zudi Rahmanto, S.Ag., M.Ag., Penghulu Madya yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala KUA Kecamatan Wonosari 2016-2020, mendapatkan tugas yang baru sebagai Penghulu Madya pada KUA Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Pria Kelahiran Dusun Menggoran, Bleberan Playen Gunungkidul ini diangkat sebagai CPNS pada tahun 2000 di tempatkan di KUA Kecamatan Tepus. Selanjutnya, pasca menerima SK PNS, dimutasi di Seksi Urusan Agama Islam Kemenag Gunungkidul 2002-2003. pada Tahun 2003 diangkat sebagai wakil PPN KUA Kecamatan Playen hingga akhir tahun 2005 dan mutasi sebagai Wakil PPN pada KUA Kecamatan Wonosari. 
Jabatan Kepala KUA/PPN diemban sejak tanggal 7 Maret 2006 sebagai Kepala KUA Kec. Karangmojo hingga 25 Pebruari 2011, KUA Kec. Tepus 25 Pebruari 2011- 1 Oktober 2016 dan Penghulu yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala KUA Kecamatan Wonosari per 1 Oktober 2016 sampai dengan hari Selasa, 25 Februari 2020.
Dengan berakhirnya masa tugas bapak H. Zudi Rahmanto di KUA Kecamatan Wonosari, beliau memohon maaf kepada warga masyarakat Kecamatan Wonosari atas segala kekurangan dan kekhilafan selama memberikan pelayanan, harapan doa kebaikan, semoga di tempat yang baru dapat memberikan pelayanan yang lebih baik, dengan harapan jalinan silaturrahmi tetap terpintal dengan mantap dalam waktu-waktu yang akan datang.

Kamis, 09 Januari 2020

TUGAS DAN FUNGSI KUA KECAMATAN BERDASAR PMA No. 34 TAHUN 2016



Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 34 Tahun 2016, Kantor Urusan Agama Kecamatan merupakan unit pelaksana Teknis pada Kementerian Agama, berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan secara operasional dibina oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Ketentuan ini termaktub dalam Bab I Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Agama Nomor 34 tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama Kecamatan. 

Berdasarkan peraturan tersebut, KUA Kecamatan bertugas melaksanakan layanan dan bimbingan masyarakat Islam di wilayah kerjanya. Dalam menjalankan tugas tersebut, KUA Kecamatan melaksanakan fungsi-fungsi : 
a) pelaksanaan pelayanan, pengawasan, pencatatan dan pelaporan nikah dan rujuk; 
b) penyusunan statistik layanan dan bimbingan masyarakat Islam; 
c) pengelolaan dokumentasi dan sistem informasi manajemen KUA Kecamatan; 
d) pelayanan bimbingan keluarga sakinah; 
e) pelayanan bimbingan kemasjidan; 
f) pelayanan bimbingan hisab rukyat dan pembinaan syariah; 
g) pelayanan bimbingan dan penerangan agama Islam; 
h) pelayanan bimbingan zakat dan wakaf; dan 
i) pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KUA Kecamatan
j) layanan bimbingan manasik haji bagi jamaah haji reguler.
@zura2020

Rabu, 08 Mei 2019

PUSAKA SAKINAH : KUA MENJADI POROS KETAHANAN

Pusaka Sakinah : Membangun Relasi Harmonis Pasangan 10> tahun Menikah

Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) akan menggulirkan Pusat Layanan Keluarga Sakinah atau Pusaka Sakinah. 

Kasubdit Keluarga Sakinah Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam, Adib Mahrus, mengatakan bahwa Pusaka Sakinah menjadi bagian dari upaya transformasi Kantor Urusan Agama (KUA) ke arah yang lebih baik.
Transformasi itu antara lain ditandai dengan sinergitas tugas penghulu dan penyuluh agama. Ke depan, tidak boleh ada dikotomi antara tugas penghulu dan penyuluh. Keduanya harus bersinergi dalam mengemban mandat UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.“Kami mencoba menggulirkan Program Pusaka Sakinah agar mentransformasi kegiatan formalistik KUA kepada orientasi kebutuhan masyarakat, mendampingi, memberi bimbingan, advokasi, mediasi, dan konsultasi,” terang Kasubdit Keluarga Sakinah Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam, Adib Mahrus.

Program baru tersebut bertujuan untuk memperkuat Kantor Urusan Agama (KUA). Program tersebut dimaksudkan agar KUA bisa memberikan pelayanan yang lebih intensif dan menukik kepada akar persoalan masyarakat. Terutama menyangkut persoalan keluarga.
Kasubdit Bina KS Direktorat Bina KUA dan KS Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, M. Adib Machrus mengatakan, pihaknya terus berupaya mengubah citra KUA. Lembaga yang tadinya dikenal hanya mengelola urusan administratif pencatatan nikah, rujuk, dan wakaf serta berbagai layanan administrasi lainnya.
“Maka dari itu perlu adanya perubahan yang sangat mendasar dengan mengubah paradigma dan transformasi KUA. Sehingga keberadaan KUA semakin dirasakan masyarakat,” kata Adib saat ditemui Mubaadalahnews di Jakarta, belum lama ini.
Dia menilai, dulu KUA memiliki lima citra di masyarakat, yakni pelayanan formalistik, layanan berjarak dengan masyarakat, pasif, pinggiran, dan kegiatan formal saja.
Maka dari itu, lanjut dia, KUA perlu untuk difasilitasi dan dibantu untuk terus berinovasi memberikan pelayanan kepada masyarakat. Terutama menyangkut isu-isu keluarga, termasuk masalah radikalisme, narkotika, tawuran remaja.
“Makanya kita terus branding menjadikan KUA sebagai pusat pelayanan keluarga sakinah,” katanya.
Pasalnya, lanjut Adib, KUA adalah salah satu unit yang di kecamatan yang terhubung langsung dengan kementerian. Maka dari itu, KUA memiliki potensi yang besar dalam menyelesaikan pelbagai persoalan di masyarakat.

Berkah, Kompak dan Lestari
Adib Machrus menjelaskan, Pusaka Sakinah dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, belajar rahasia nikah yang disingkat Berkah. KUA memberikan bimbingan perkawinan (bimwin) bagi calon pasutri, bimbingan membangun relasi sehat dan mengelola keuangan.
Kedua, lanjut dia, ada konsultasi, mediasi, pendampingan dan advokasi, yang disingkat Kompak. Apabila ada keluarga yang bermasalah atau konflik, maka bisa menggunakan konsultasi atau mediasi di KUA. Sedangkan jika di masyarakat ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kawin anak atau kehamilan tidak dikehendaki bisa minta pemdampingan atau advokasi ke KUA.
Terakhir, kata Adib, ada Layanan Bersama Ketahanan Keluarga Indonesia (Lestari). KUA harus harus sebagai inisiator layanan terpadu lintas sektor untuk isu-isu yang tidak bisa digarap sendiri seperti pencegahan kawin anak, kesehatan keluarga, stunting.
Pusaka Sakinah: Membangun Jaringan Lokal untuk Ketahanan Keluarga

“Layanan ini juga, KUA harus membangun jaringan di tingkat lokal dalam menggarap isu-isu lintas sektoral,” tuturnya.
Untuk merealisasikan program Pusaka Sakinah, pihaknya akan memberikan pelatihan guna meningkatkan kapasitas petugas. Harapannya, petugas yang terlatih itu dapat memberikan penanganan yang benar di masyarakat.
BERKAH: Belajar Rahasia Nikah: Pengelolaan Keuangan Keluarga

“Jadi petugas khusus yang dilatih, makanya kita latih mereka agar ke depan KUA berdampak pada masyarakat bukan soal administrasi saja tetapi bisa memberikan pelayanan terkait isu-isu keluarga atau pun problem sosial,” tandasnya. (ZR dari berbagai sumber)

Rabu, 25 April 2018

KEPALA KUA KECAMATAN BELAJAR RELASI ADIL GENDER

Bertempat di Hotel Cakra Kembang Yogyakarta, RAHIMA, NGO yang concern terhadap issu-issu keadilan dan kesetaraan relasi laki-laki dan perempuan, bersama Rifka Annisa Woman Crisis Center (WCC) Yogyakarta, memfasilitasi 30 Kepala KUA dari Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo untuk workshop penyusunan Panduan Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender dengan pelibatan laki-laki.

 Melibatkan KUA, Rahima berasumsi bahwa jaringan KUA yang menjangkau seluruh Indonesia, dipandang strategis untuk mendapatkan program pelibatan Institusi dalam Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender dengan pelibatan laki-laki.

Basis Informasi yang dibangun adalah tentang pemahaman konsep Gender sebagai Konstruk Sosial dan perbedaannya dengan Seks yang bersifat Kodrati.
Gambar: Illustrasi Keseriusan Peserta Mengikuti Pemaparan Materi

A. Gender
  • bersifat sosial budaya
  • hasil buatan/konstruksi sosial budaya manusia
  • bersifat tidak tetap, berubah dari waktu ke waktu, berbeda dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya
 B. Seks
  • Bersifat Alamiah, Given (pemberian Tuhan)
  • Perbedaan dari alat kelamin laki-laki dan perempuan serta potensi yang dibawanya
  • Bersifat tetap, tidak berubah karena perbedaan waktu dan tempat.
Kesetaraan Gender
Adalah Kesadaran mengenai kedudukan manusia di hadapan Tuhan maupun di muka hukum adalah sama dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan setara.

Norma Gender
Adalah hal-hal yang merupakan harapan atau keyakinan masyarakat tentang bagaimana seharusnya seseorang harus berpikir atau bertindak sebagai laki-laki atau perempuan di masyarakat.

PERAN GENDER 
Seperangkat Norma Sosial yang membakukan peran-peran sosial ataupun kegiatan yang harus dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang secara umum dianggap dapat diterima, pantas dan diinginkan oleh masyarakat karena jenis kelamin mereka.

Patriarkhi
Adalah budaya yang dipengaruhi oleh sistem dominasi nilai laki-laki di masyarakat, berdasarkan pandangan atas keunggulan peraan sosial laki-laki.

Subordinasi
Adalah Pnomorduaan, berhubungan dengan hal politik, proses pengambilan keputusan dan pengendali keputusan dan pengendali kekuasaan
Beranggapan salah satu jenis kelamin lebih penting atau lebih utama dibanding dengan jenis kelamin yang lain.

Marginalisasi
Adalah tindakan, ungkapan meminggirkan salah satu jenis kelamin dalam partisipasi, pemanfaatan,, pengambilan keputusan dalam ranah domestik, sosial dan politik.

Stereotipe
adalah pelabelan karakteristik tertentu pada perempuan dan laki-laki yang terus menerus didengungkan dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Beban Ganda/Lebih
Adalah memberikan tanggung jawab yang berlebihan dan merugikan pada salah sa
tu jenis kelaminkarena yang dilakukannya dianggap rendah dan bukan pekerjaan.

Kekerasan/Violance
Kekerasan Fisik seperti pemerkosaan, incest, pemukulan dan penyiksaan, bahkan pemotongan alat genetikal perempuan  (khitan perempuan)
Kekerasan dalam bentuk psikologis, ekonomi dan seksual.

Minggu, 11 Februari 2018

HADITS HADITS PERNIKAHAN

Hadist-Hadist Tentang Nikah
أَحَادِيثُ فِي اَلنِّكَاح

Bagi penceramah dalam acara resepsi perkawinan atau pernikahan, penguasaan terkait hadist-hadist tentang Nikah menjadi niscaya, karena biasanya hadits terkait akan maenjadi penguat argumentasi dai dalam menyampaikan materi ceramahnya. Dalam kesempatan ini, tentu tidaklah keliru atau kurang now  untuk dilakukan copy paste atas  beberapa teks hadist dan terjemahnya, berkenaan dengan pernikahan.


عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi.


وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَمِدَ اَللَّهَ , وَأَثْنَى عَلَيْهِ , وَقَالَ : لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ , وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ , وَأَتَزَوَّجُ اَلنِّسَاءَ , فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” Muttafaq Alaihi.


وَعَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ : تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا , وَلِحَسَبِهَا , وَلِجَمَالِهَا , وَلِدِينِهَا , فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ اَلسَّبْعَةِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” Muttafaq Alaihi dan Imam Lima.


وَعَنْهُ ; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ : ( بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ , وَبَارَكَ عَلَيْكَ , وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ خُزَيْمَةَ , وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.


وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( عَلَّمَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلتَّشَهُّدَ فِي اَلْحَاجَةِ : إِنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِينُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ , وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَيَقْرَأُ ثَلَاثَ آيَاتٍ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَالْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami khutbah pada suatu hajat: (artinya = Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah Allah tak ada orang yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya) dan membaca tiga ayat. Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan Hakim.


وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا , فَلْيَفْعَلْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.

وَلِمُسْلِمٍ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ اِمْرَأَةً : أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا ? قَالَ : لَا . قَالَ : اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا )

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ , حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ , أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.


وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي , فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ اَلنَّظَرَ فِيهَا , وَصَوَّبَهُ , ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ , فَلَمَّا رَأَتْ اَلْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ , فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ. فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا. قَالَ : فَهَلْ عِنْدكَ مِنْ شَيْءٍ ? فَقَالَ : لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ. فَقَالَ : اِذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ , فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ? فَذَهَبَ , ثُمَّ رَجَعَ ? فَقَالَ : لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا. فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ. فَقَالَ : لَا وَاَللَّهِ , يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ , وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي – قَالَ سَهْلٌ : مَالُهُ رِدَاءٌ – فَلَهَا نِصْفُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ ? إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ شَيْءٌ فَجَلَسَ اَلرَّجُلُ , وَحَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ ; فَرَآهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُوَلِّيًا , فَأَمَرَ بِهِ , فَدُعِيَ لَهُ , فَلَمَّا جَاءَ. قَالَ : مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ? قَالَ : مَعِي سُورَةُ كَذَا , وَسُورَةُ كَذَا , عَدَّدَهَا فَقَالَ : تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ ? قَالَ : نَعَمْ , قَالَ : اِذْهَبْ , فَقَدَ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( اِنْطَلِقْ , فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا , فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ ) وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( أَمْكَنَّاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ )

Sahal Ibnu Sa’ad al-Sa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bersabda: “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab: Demi Allah tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu.” Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata: Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa.” Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai hafalan Qur’an?” Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam suatu riwayat: Beliau bersabda padanya: “berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur’an.” Menurut riwayat Bukhari: “Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur’an yang telah engkau hafal.”


وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى , عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّانَ , وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ

Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu al-Madiny, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal.


وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا, فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ, فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا اَلْمَهْرُ بِمَا اِسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا, فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ أَبُو عَوَانَةَ , وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka bertengkar maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” Dikeluarkan oleh Imam Empat kecuali Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Hakim.



Senin, 05 Februari 2018

TAFSIR MAUDLUI



Al Biqa’i:
Karena Semua Meniscayakan  Harmoni

Imam Ibrahim bin Umar al-Biqa’i adalah seorang ahli tafsir yang pertama menemukan tentang metode keserasian ayat demi ayat dalam al-qur’an, bahkan kata demi kata dalam al-qura’an dengan nama kitab tafsirnya “ Nazmu al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar (susunan permata tentang hubungan ayat dan surah). Merupakan ilmu tafsir yang membahas keserasian atau munasabah ayat dan surah dalam al-quran.
Di dalam al-qur’an antara ayat yang satu dengan ayat yang lain pasti mempunyai keterkaiatan, baik antara ayat dan surat. Walapun tidak semuanya dalam al-qur’an ayat dan surah memiliki musanabah dalam arti dan lafad. Ini menunjukkan betapa indahnya ayat-ayat suci al-qur’an.
Terkait relasi antara suami isteri, Al Biqa’I menyatakan bahwa:
نظم الدرر للبقاعي - (ج 6 / ص 300)
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21) وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (22) وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (23)

ولما كان أعجب من ذلك أن هذا الذي خلقه التراب ذكراً خلق منه أنثى ، وجعلهما شبهي السماء والأرض ماء ونبتاً وطهارة وفضلاً ، قال : { ومن آياته } أي على ذلك؛ ولما كان إيجاد الأنثى من الذكر خاص لم يكن إلا مرة واحدة كالخلق من التراب ، عبر بالماضي فقال : { أن خلق لكم } أي لأجلكم ليبقى نوعكم بالتوالد ، وفي تقديم الجار دلالة على حرمة التزوج من غير النوع ، والتعبير بالنفس أظهر في كونها من بدن الرجل في قوله : { من أنفسكم } أي جنسكم بعد إيجادها من ذات أبيكم آدم عليه السلام { أزواجاً } إناثاً هن شفع لكم { لتسكنوا } مائلين { إليها } بالشهوة والألفة ، من قولهم : سكن إليه - إذا مال وانقطع واطمأن إليه ، ولم يجعلها من غير جنسكم لئلا تنفروا منها .
ولما كان المقصود بالسكن لا ينتظم إلا بدوام الألفة قال : { وجعل } أي صير بسبب الخلق على هذه الصفة { بينكم مودة } أي معنى من المعاني يوجب أن لا يحب واحد من الزوجين أن يصل إلى صاحبه شيء يكرهه مع ما طبع عليه الإنسان من محبة الأذى ، وإنما كان هذا معناه لأن مادة « ودد » مستوياً ومقلوباً تدور على الاتساع والخلو من الدو والدوية بتشديد الواو وهي الفلاة ، والود والوداد قال في القاموس : الحب ، وقال أبو عبد الله القزاز ونقله عنه الإمام عبد الحق في واعيه : الأمنية ، تقول وددت أن ذاك كان ، وذاك لاتساع مذاهب الأماني ، وتشعب أودية الحب ، وفي القاموس : ودان : قرية قرب الأبواء وجبل طويل قرب فيد ، والمودة : الكتاب - لاتساع الكلام فيه . وقال الإمام أبو الحسن الحرالي في شرح الأسماء الحسنى : الود خلو عن إرادة المكروه ، فإذا حصل إرادة الخير وإيثاره كان حياً ، من لم يرد سواه فقد ود ومن أراد خيراً فقد أحب ، والود أول التخلص من داء أثر الدنيا بما يتولد لطلابها من الازدحام عليها من الغل والشحناء ، وذلك ظهور لما يتهياً له من طيب الحب ، فمن ود لا يقاطع ، ومن أحب واصل وآثر ، والودود هو المبرأ من جميع جهات مداخل السور ظاهره وباطنه .
ولما كان هذا المعنى الحسن لا يتم إلا بإرادة الخير قال : { ورحمة } أي معنى يحمل كلاًّ على أن يجتهد للآخر في جلب الخير ، ودفع الضير ، لكن لما كانت إرادة الخير قد تكون بالمن ببعض ما يكره جمع بين الوصفين ، وهما من الله ، والفرك - وهو البغض - من الشيطان .
ولما كان ذلك من العظمة بمكان يجل عن الوصف ، أشار إليه بقوله مؤكداً لمعاملتهم له بالإعراض عما يهدي إليه معاملة من يدعي أنه جعل سدى من غير حكمة ، مقدماً الجار إشارة إلى أن دلالته في العظم بحيث تتلاشى عندها كل آية ، وكذا غيره مما ان هكذا على نحو { وما نريهم من آية إلا وهي أكبر من أختها } [ الزخرف : 48 ] : { إن في ذلك } أي الذي تقدم من خلق الأزواج على الحال المذكور وما يتبعه من المنافع { لآيات } أي دلالات واضحات على قدرة فاعله وحكمته .
ولما كان هذا المعنى مع كونه دقيقاً يدرك بالتأمل قال : { لقوم } أي رجال أو في حكمهم ، لهم قوة وجد ونشاط في القيام بما يجعل إليهم { يتفكرون* } أي يستعملون أفكارهم على القوانين المحررة ويجتهدون في ذلك .
ولما ذكر سبحانه الذكر والأنثى ، المخلوقين من الأرض ، وكانت السماء كالذكر للأرض التي خلق منها الإنسان ، وكان خلقهما مع كونهما مخلوقين من غير شيء أعجب من خلقه فهو أدل على القدرة ، وكان خلق الأرض التي هي كالأنثى متقدماً على عكس ما كان في الإنسان ، أتبعه ذكرهما بادئاً بما هو كالذكر فقال مشيراً - بعد ما ذكر من آيات الأنفس - إلى آيات الآفاق : { من آياته } أي الدالة على ذلك ، ولما كان من العجب إيجاد الخافقين من العدم إيجاداً مستمراً على حالة واحدة ، عبر بالمصدر فقال : { خلق السماوات } على علوها وإحكامها { والأرض } على اتساعها وإتقانها .
ولما كان من الناس من ينسب الخلق إلى الطبيعة ، قال تعالى ذاكراً من صفات الأنفس ما يبطل تأثير الآفاق بأنفسها من غير خلقه وتقديره ، وتكوينه وتدبيره : { واختلاف ألسنتكم } أي لغاتكم ونغماتكم وهيئاتها ، فلا تكاد تسمع منطقين متفقين في همس ولا جهارة ، لا حد ولا رخاوة ، ولا لكنة ولا فصاحة ، ولا إسهاب ولا وجازة ، وغير ذلك من صفات النطق وأحواله ، ونعوته وأشكاله ، وأنتم من نفس واحدة ، فلو كان الحكم للطبيعة لم يختلف لأنه لا اختيار لها مع أن نسبة الكل إليها واحدة .
ولما كان لون السماء واحداً ، وألوان الأراضي يمكن حصرها ، قال : { وألوانكم } أي اختلافاً مع تفاوته وتقاربه لا ضبط له مع وحدة النسبة ، ولولا هذا الاختلاف ما وقع التعارف ، ولضاعت المصالح ، وفاتت المنافع ، وطوي سبحانه ذكر الصور لاختلاف صور النجوم باختلاف أشكالها ، والأراضي بمقادير الجبال والروابي وأحوالها ، فلو كان الاختلاف لأجل الطبيعة فإما أن يكون بالنظر إلى السماء أو إلى الأرض ، فإن كان للسماء فلونها واحد ، وإن كان للأرض فلون أهل كل قطر غير مناسب للون أرضهم . وأما الألسنة فأمرها أظهر .
ولما كان هذا مع كونه في غاية الوضوح لا يختص بجنس من الخلق دون غيره قال : { إن في ذلك } أي الأمر العظيم العالي الرتبة في بيانه وظهور برهانه { لآيات } أي دلالات عدة واضحة جداً على وحدانيته تعالى وفعله بالاختيار وبطلان ما يقوله أصحاب الطبائع من تلك الاحتمالات التي هي مع خفائها واهية ، ومع بعدها مضمحلة متلاشية { للعالمين* } كلهم لا يختص به صنف منهم دون آخر من جن ولا إنس ولا غيرهم ، وفي رواية حفص عن عاصم بكسر اللام حث للمخاطبين على النظر ليكونوا من أهل العلم ، وفي قراءة الباقين بالفتح إيماء إلى أن ذلك من الوضوح بحيث لو نطق الجماد لأخبر بمعرفته ، ففيه إشارة إلى أنهم عدم ، فلا تبكيت أوجع منه .

H. Zudi Rahmanto, dalam Kegiatan Manasik Haji di KUA, 2018 Mutasi Penghulu KUA Kecamatan se Kabupaten Gunungkidul telah dilaksana...